Senandung Kematian
(AN Huda)
(AN Huda)
![]() |
Pemanis belaka (lokasi wisata Munduk Nangka, Jembrana Bali) |
Hidup itu menghirup
Cahaya terang kini kian meredup
Dan kini akupun menjadi gugup
Gemetar terus berdegup
Bagaimana tidak?
Jika usia sudah tak lagi muda
Ketika indra sudah mulai lelah tuk menjalankan tugasnya
Mata sudah berkacamata
Telinga sudah banyak dengungnya
Kulit sudah hilang kepekaannya
Hingga lidah sudah mulai hilang rasanya
Bukan hanya itu
Sepertinya sang sukma sudah bosan pada raga ini
Hingga ia sering berkelana dalam mimpiSepertinya sang sukma sudah bosan pada raga ini
Kadang lupa arah tuk kembali
Hingga sekitarpun berteriak tak ada henti
Ia pun mengikuti dalam sunyi dan kembali
Mungkin tak lama lagi ia kan berkelana
Hingga tak tau sampai singgahsana atau malah terjebak dalam durja
Menyusul rekan sejawatnya yang telah lama meninggalkannya
Hingga tak tau sampai singgahsana atau malah terjebak dalam durja
Menyusul rekan sejawatnya yang telah lama meninggalkannya
Jika sudah saatnya tak ada yang bisa mengelaknya
Kini hanya dalam penantian
Hingga senandung kematian menjemputnya
Mengiringi pergi yang justru awal tuk kembali
Sampai penghakiman kan dimulai
Kini hanya dalam penantian
Hingga senandung kematian menjemputnya
Mengiringi pergi yang justru awal tuk kembali
Sampai penghakiman kan dimulai
Jika semua berpasangan, terang kan menemukan sang gelap
Derita kan menemukan tawa bahagia
Dan hidup kan menghampiri kematiannya
Semua hanya menunggu saatnya tiba
Derita kan menemukan tawa bahagia
Dan hidup kan menghampiri kematiannya
Semua hanya menunggu saatnya tiba
Jembrana, 2021


0 Comments