Tak lama ini ku tak sengaja menemukan sebuah postingan yang diberi judul "TUHAN YANG TERPOJOK". Semuah cerita dari seseorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Dia berasal dari Kabupaten Pemalang Jawa Tengah.
Dikisahkan bahwa dia kehabisan uang saku yang telah rutin dikirimkan oleh orang tuanya. Karena menejemen keuangan yang buruk, maka uang saku habis sebelum waktunya. Ya seperti saya, menejemen keuangannya juga buruk, hehehe. Diceritakan disuatu pagi dia berdoa dengan khusuk kepada sang Tuhan. Lebih tepatnya mengancam sih, kenapa aku bisa bilang begitu? Begini, dia menyebutnya memojokkan Tuhan, masak iya Tuhan Maha Besar tersebut tidak sanggup membayar tagihannya yang remeh.
Kalian penasaran apa tidak iai tagihannya tersebut? Isi tagihannya yaitu dia ingin minta balas atas kebaikan ibuknya saat ia masih kecil dulu. Sang ibu yang merupakan guru SD diwilayahnya bertindak baik kepada muridnya. Ketika itu ada seorang murid yang sering kelaparan saat disekolah, karena tak ada sarapan dirumahnya. Nahh sang ibu menyuruh si murid ini untuk sarapan dirumahnya setiap hari. Oleh karena itu dia dengan PD nya keluar dan menuju kesalah satu warung disekitarnya. Dengan santai ia memesan nasi dengan kuah gratisan dan lauk keripik tempe.
Ditengah kondisi sedang makan, ia melihat orang-orang disekelilingnya. Keringat dingin mulai keluar tatkala tidak ada tanda-tanda sang malaikat penolong yang akan membayar tagihan atas makanan yang ia pesan. Saat itu ia malah menatap mata salah satu tentara, tengan wajah tegas (bukan tegas, lebih terlihat menakutkan, hahahah). Sang tentara itu mendekatinya, BRAK! bunyi gebrakan meja disebelahnya. Sang tentara tersebut lalu menanyakan asal di pemuda ini, dengan ketakutannya ia menjawab "Jawa Tengah" namun tentara tersebut kurang puas akan jawabannya, ia terus mengintrogasinya sampai ke desanya. Tak lama tentara tersebut pergi. Sedikit lega rasanya, dalam pikirannya ia berkata "ya Tuhan, jika engkau enggan menghadirkan malaikatmu, janganvkau kirimkan setan kepadaku".
Brak! bunyi itu kembali mengagetkannya. Awakmu anak e sopo? Bahasa jawa medok itu menyapanya. Seketika ia menjadi lebih tenang, seperti dapat hembusan angin segar, merasa ada saudara meski tak tau siapa dia. Setelah ia menjawab pertanyaan dari tentara tersebut dengan menyebutkan identidas orang tuanya, wajah si tentara semakin melunak sembari menyodorkan sebuah mangkok berisi opor ayam. Sebuah mangkak yang mengagetkannya atas bunyinya tadi.
Si tentara tersebut kemudian bercerita mengenai ibunya si mahasiswa ini. Ternyata dia adalah salah seorang murid yang dulu sering ditolong oleh ibunya karena kelaparan saat sekolah. Ibumu dulu galak, tapi karena itulah banyak murid yang bisa sampai lulus, salah satunya diriku, ujarnya. Cepat makan itu dan gak usah bayar, jika mau makan kesini saja, ini warung yang kudirikan sebagai usaha sampingan, gak usah sungkan. Udara sejuk kian menyelimutinya, dalam benak pikirannya " memang Tuhan tidak tega melihat hambanya yang baru saja merasa kelaparan dan memojokkanNya. Tak lama ia langsung dapat balasan atas pintanya".
Nahh, lalu korelasi dari cerita dengan judul tersebut apa? Kok gak nyambung ya? Hehehe, begini sahabat ceritanya. Saat ini aku merasa bingung atas masalah yang kuhadapi. Ingin rasanya ku mengikuti jejaknya, tapi aku sadar bahwa selama ini yang Tuhan berikan kepadaku sudah terlampau banyak, sedangkan hidupku jauh dari aturan yang Dia berikan. Ya diri ini lebih sering melenceng daripada mengikuti aturannya. Oleh karena itu jangankan untuk memojokkan Tuhan, mengeluhpun aku malu. Hehehe
Ya itulah sedikit gambaran yang kurasakan saat ini. Ketika hidup sudah terlalu sering Tuhan tolong dengan perantara tangan-tangan hambanya dan ku belum bisa membalas dengan syukur dan mengikuti aturanNya. Sering tiba-tiba ada yang menawarkan bantuan, entah berupa uang, makanan, jasa atau menawarkan pekerjaan dikala sedang butuh pertolongan.
Saat ini dalam setiap saat ku curi-curi celah untuk berdoa kepadaNya, karena sebenarnya diri ini telah malu untuk melakukannya. Berharap ada sebuah keajaiban yang diberikanNya, karena Tuhan takkan membiarkan hambanya larut atas masalah yang dihadapinya. Tuhan Maha Besar dan Maha Penolong, itulah yang ku yakini sampai saat ini. Jika Tuhan tak mengabulkan doaku, paling tidak Dia mengabulkan doa kedua orang tuaku dan orang disekelilingku. Aamiiin 🙏🏼
Jember, 9 Januari 2020
0 Comments