Mendung kelabu selalu menyelimuti rasa harapku
Menengok sudut kamar kian mencekam
Tumpukan baju kian berserakan
Hey kamu..
Kamu gak mandi ya? hardik teman masuk ke kamarku
Enak saja, aku mandi setiap waktu
Terus kenapa masih bau?
Tak ingatkah kau, jika awan kelabu selalu membuat langit Jakarta menangis?
Derita hidup dalam rantauan
Panas surya adalah harapan
Harapan dikala langit kian menyedihkan
Biru ditunggu, kelabu menghampiriku
Namun hari ini kita patut bahagia
Harapku bagai kuncup menanti mekar
Langit biru Jakarta
Bagai lentera dalam kegelapan
Mengusik sepi yang telah dalam
Mengusir kelabu membawa kebahagiaan
Akhirnya aku punya stok pakaian bersih
| Tags : | Puisi | Jakarta | Langit |
| Sumber Gambar : | Detik |


0 Comments