Senja..
Bukan melulu tentang sebuah tenggelamnya sang surya. Tentang hadirnya perpaduan warna merah, kuning bahkan jingga. Serta bukan pula tentang keindahannya saja.
Dibalik keindahan yang tersimpan, kita lupa bahwa senja merupakan waktu penantian. Waktu tepat untuk mencurahkan perasahan serta beban fikiran. Penantian kepulangan dari riuhnya pekerjaan, riuhnya jalan. Waktu dimana seorang anak menanti kepulangan orang tuanya. Atau bahkan waktu dimana anak merasa terasingkan dibalik kata senja.
Yaa, saat itu kulihat seorang anak sedang duduk termenung dalam lamunan. Disebuah sudut riuh kota dengan bisingnya suara dan gemerlap lampu yang mulai menyala. Ia duduk menatap kosong dengan tubuh lusuh, memegang karung dan tongkat senjata. Senjata untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Mengais sisa-sisa yang tak lagi dianggap berguna.
Dalam lelah ia duduk bersila. Bersandar di dinding gedung tua. Melamun terbayang kasih sayang orang tua. Yang telah berpulang ketika ia masih sangat belia. Rindu akan dekap kasih sayang yang telah lama menghilang. Bahkan ia bingung akan sekedar arah pulang, ketika rumah sudah dirobohkan oleh cakar-cakar besi dan rata berganti sebuah gedung tinggi menyingkirkan insan yang lama hidup disana.
Lamunannya kian dalam hingga tak terasa air matanya tak terbendung keluar. Membasahi ranum pipi yang kusam itu. Tebesit marah dan juga kecewa. Kenapa hidupku menderita? Kenapa tal Kau kumpulkan saja aku dengan kedua orang tuaku?
Tapi..
Semua lamunannya sirna bersama hilangnya sang senja. Terdengar sayup suara adzan menggema. Ia sadar hidup bukan melulu derita, bukan sekedar mengharapkan akan hak-haknya. Tetapi hidup ini juga ada kewajiban serta ada kata bahagia yang harus tetap diperjuangkan, bukan hanya disesalkan.
ANH
0 Comments